Minggu, 04 Desember 2016

Bukan Karena Hujan

Saat itu hujan masih rintik-rintik dan semua orang masih beteduh didalam rumahnya, tidak sedikit juga mereka yang dalam perjalanan menepi ke took-toko dipinggir jalan hanya untuk menghindari air yang turun dari langit saat itu. Namun untukku, gerimis di sore hari itu mengingatkan aku akan peristiwa yang menyayat hati beberapa tahun lalu. Ketika itu Hisa baru saja menjemputku ke sekolah setelah sekian lama kami tidak saling bertemu. Meski beda sekolah kami tetap menjaga kuantitas pertemuan namun ternyata menjaga itu saja tidaklah cukup. Hari itu dia mengatakan padaku kalau hubungan kami tidak mungkin dilanjutkan, hubungan yang tidak “berguna”. Kata-kata kasar yang sangat menyakitiku itu tentunya tak mungkin termaafkan. Dan dengan yakin aku pun turun dari kendaraan miliknya ditengah hujan gerimis disore hati saat itu. Aku menangis tersedu-sedu dijalan. Semua orang yang berteduh melihat ke arahku, mereka mungkin heran melihat anak perempuan yang masih berseragam sekolah berjalan dibawah geriminya hujan sambil menangis tersedu-sedu. Namun aku tidak peduli dengan anggapan orang kala itu, karna hati ini sudah terlanjur sakit dibuat kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki yang selama ini aku sangat sayangi. Hisa!!! Aku masih berharap padanya, sambil terus berjalan, entah kemana tujuanku, bukan ke rumah, bukan ke sekolah, namun aku menuju sebuah taman dimana kami sering duduk bersama saat masih bersama.


 ---


Tiga hari sudah berlalu, namun hatiku masih saja sakit saat melihat foto-foto kenangan bersama kami. Sejak kejadian itu hingga sekarang, Hisa sama sekali tidak ada menghubungiku, mungkin bertanya apa kabarku?, bagaimana keadaanku?. Harapan dalam hati ini terus meminta seperti itu, namun tetap saja tidak ada tanda-tanda kea rah sana. Dia sama sekali tidak ingat aku lagi.


 ---


Tidak tahannya aku jika tidak melihatnya, membuatku memberanikan diri untuk menghubunginya terlebih dahulu meski harus mempertaruhkan harga diriku. Hubungan yang ku jalani selama 2 tahun hancur begitu saja tentu aku tidak bisa menerimanya. Ini bukan yang aku inginkan, aku tidak mau seperti ini terus, aku harus minta penjelasan darinya. Namun Hisa menolak mentah-mentah ajakanku untuk bertemu dengannya, dia sama sekali tidak peduli lagi denganku, dia sudah berubah, dia bukan Hisa yang ku kenal dulu. Seperti itulah reaksiku saat mendengarnya kembali mengeluarkan kata-kata kasar padaku. Namun lagi-lagi aku tidak pantang menyerah, hampir setiap hari aku menghubunginya, meski tidak diangkat. Setiap hari aku meng-sms dia, meski tidak dibalas, buatku tidak maslah. Hingga aku tau apa alasannya, aku tidak akan berhenti menghubunginya. Namun di suatu malam, saat aku dan teman-teman dekatku tengah makan malam di sebuah caffe. Tanpa sengaja aku melihat Hisa berjalan bersama seoarng perempuan berambut panjang terurai dan ikal. Mereka baru saja memasuki caffe berdua menju sebuah perkumpulan teman-teman Hisa yangs elama ini akulah yang selalu dibawanya. Ada kak Yuke, kak Putra, kak Resa dan kak Andre. Mereka semua tengah duduk di sudut ruangan luar caffe. Aku tercengang melihat pemandangan yang menyakitkan itu. Mereka bergembira diatas kesedihan dan tanda tanyaku. Mereka benar-benar kejam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar